Sederet keindahan membentang disini
tepat dibawah ku sedang membentangkan tangan
mentari diujung sana, mulai meredup menatapku
pelangi melipat baju, bergegas berlalu
Seribu tanya masih membekas dan pilu
menatap hampa, melemparkan jerit pada ujung langit sana
ini tentang mu yang telah berlalu
mengaduk hati, lalu bersetubuh akan pekat malam
Heyy.............
masih wajarkah, aku memaki ?
melemparkan pecahan kaca yang berserakan
Terkelupas kulit bertahun-tahun
Sebenarnya ini masih sama
seperti suara jam
dinding berdetak sayang
semakin lama, suara itu mencekam
apakah masih sama, saat itu dan sekarang ?
Kubakarkan rokok kuhempuskan asap
sementara, kubercinta dengan mu dalam
kabut ini.
merdeka kan ku, atas kekalahan rindu
memecahkan karang , diujung kata” aku terkelam dinda”
Aku sekarang terduduk dibawah rogga langit
harap detak-detak langkah asing menyapa
Sore , terasa keindahan berjajar mesra
disebelah ini kamu memakan es krim dinda.
Aku Evan saputra, masih bersetubuh kegelapan
menati purnama, memutar kehidupan
bukankah jadwalnya malam ini kau manggung
apakah kau dan aku sama dibanjiri kehujanan. Berhenti lalu gersang.
No comments:
Post a Comment