Friday, December 4, 2015

Surat Kecil Untuk Pemerintah



Huuu.... , langit yang mendung seakan sangat bersahabat dengan pak Giman, seorang tukang ojek di pasar satria jaya. Pak giman masih termenung diatas motor legenda kesayangannya, motor yang masih membuat dia masih bertahan dikota ini dan masih bisa memberikan nafkah kepada kedua anaknya, walaupun hanya untuk makan 2 kali sehari.
Dalam al-qur’an di jelaskan kita sebagai khalifah di muka bumi, harus saling tolong menolong antar sesama. Nyatanya sekarang ?. itu telah musna di kota ini, budaya barat telah merobohkan benteng-benteng kokoh yang telah di bangun ribuan tahun dengan sekejap tinggal cerita dan donggeng saja yang di peruntukan sebgai lelucon di masa ini. Pak giman mengelengkan kepala. Kemana pemerintahku, wakil ku ?.
Ternyata bukan sebatas itu yang disayangkan pak giman terhadap pemerintah, ternyata berlanjut begitu parah, sehingga pak giman meneteskan air mata dalam gubuk nya di seperempat malam itu.
BBM meloncat naik, seakan serentak memlulurantahkan tulang belulang dan kata putus asa mulai merasuk di kepala pak giman. Ia termenung di pangkalan ojek begitu lama, bahkan kawan seperjuangannya meyapa, tpi pak giman hanya diam, sambil menatap ujung jalan yang berliku di ujung sana. Tapi anehnya tatapan pak giman tak seperti biasanya, tatapannya kosong, pikirannya melayang entah kemana, “ Apa yang harus ku lakukan ?, bagaimana dengan Nita dan Abdul?, apa yang harus kukatakan kalau uang ku tidak cukup untuk menyekolahkan mereka, nita harus masuk SMA, memang sekolah gratis, itu hanya SPP saja, dan yang lainnya.....”. pikiran pak giman buyar saat suara azan berkumandang, pak giman bergegas mengerakkan motornya ke tempat suara azan yang sedang berkumandang dengan megahnya.
Senin, jam 17.15 pak giman duduk tersipuh didepan sebuah makam yang hanya di kelilingi batu-batu kerikil, pemkaman ini sangat mudah untuk ditemui, karna diantara pemakaman yang megah mengelilinginya. Makam yang hanya bertembokan batu tersebut tertulis Kartini, “ iya, benar, itu memang makamnya istri pak giman. Terlihat disela kelopak mata pak giman mulai menetes air mata hanggat bercucuran. Pak giman mulai meruntuk dalam hatinya sambil memeluk nisan istrinya. “ Abi minta maaf Ummi, nggak bisa beri yang terbaik untuk buah hati kita, abi belum bisa mengumpulkan uang yang cukup , uang tabungan abi, tinggal 150 ribu mi, lainnya sudah terpakai dan lagi sekarang Nita mau.......”, pak giman tak sanggup meneruskan bait demi bait, air matnya terus mengalir deras, ia tertunduk denga isak yang membash bajunya, “ Abi sayaanngg Ummi “ ak giman langsung berlari dari pemakaman tersebut.
Pak giman kembali di buat pusing akan kelakuan pemerintah. BBM naik pemerintah ambur-ambur uang, apa nggak salah ?, ini edan.
Teman disebelah pak giman tersenyum lebar, karena ia dapat kartu Bantuan langsung Tunai, “ ini baru pemerintah yang peduli dengan rakyat semacam kita yah kan pak “, ucap nya dengan pak giman. Pak giman hanya diam saja, dan memang ia di kenal sebgai pendiam, hanya bicara kalau yang penting-penting saja.
Hari rabu, jam 15.35, pak giman membawa motornya ke pinggir jalan raya, dan jauh kelihatan iringan-iringan mobil mewah yang perlahan mulai mendekati kearah pak giman, dann.... TASSSSSSSSS, suara kaca mobil itu pecah, dan semua mobil berhenti, semua mata orang tertuju pada satu orang yang masih berdiri dipinggir jalan raya itu, “ ITU DIA ORANGNYA, ITU DIA, ITU DIA YANG MELEMPARNYA “, seseorang yang bertubuh tegap berpakaian baju loreng langsung memukul kepala lelaki itu dan menagkapnya. Seorang yang berwaja luwes yang dari tadi menatap kearah laki-laki yang melempar batu tersebut, akhirya mendekatinya, “ kamu yang melakukannya” tanya orang tersebut dengan nada lembut.  “ iya “ jawab laki-laki tanpa sedikitpun ketakutan, mungkin ini sudah ia pikirkan matang-matang. “ Kenapa?, Salah apa saya pada anda?”, Anda tak perna mau mendengar suara dari gubuk kumuh, anda tidak perna ingin tahu penderitaan rakyat kecil, saya ingin anda tahu sebagai wali kota itu bearti anda adalah bapak dari kami semua, apakah anda merasa sakit, saat kami kelaparan, apakah anda merasa sakit saat kami hanya mampu bergantung hidup pada hari ini untuk besok” ucap nya sambil menanggis. Wali kota itu tertunduk seraya berkata “ bukan seperti ini caranya, ini adalah tindak anarkis”, “ seperti apa ?, bukankah ia media massa, elektronik dan demonstran sudah merajalela, mulut mu dan lainnya masih membukam, apakah kamu kira kami hanya tontonan dan lelucon untuk kalian yang bermewah-mewahan atas milik kami, ingatlah kalian itu hanya wakil kami , penyambung suara, bukankah semua yang kalian kerjakan untuk rakyat”, ujar laki-laki tersebut dengn raut wajah yang binggar. “ Bawahh bapak ini “ Ujar wali kota dengar muka yang memerah.
Mobil mewh itu melaju melewati jalan-jalan dan rambu-rambu, meninggalkan mata-mata yang tertuju dan tinggal tanda tanya besar pada mereka, “ apa yang ia lakukan, apakah ia sudah gila, kenapa dan mengapa ..? tanya itu lenyap di telan angin yang berhembus begitu berkuasanya sore ini.
Sebelah tempat duduknya , ada batu yang dibaluti dengan kertas, dia ambil dan buka, ada kartu BLT ( bantuan langsung tunai), dan ada tulisannya. “ INI KU KEMBALIKAN PADAMU KARTU INI, AKU MEMANG MISKIN, TAPI AKU BUKAN PENGEMIS. AKU MEMANG BUTUH UANG, TAPI KEDAMAIAN, KETENANGAN, YANG AKU HARAPKAN, ALLAH TIDAK TIDUR, INGAT ITU. JABATAN AKAN DIPERTANGGUNG JAWABKAN DIHADAPAN ALLAH, KAU DAN AKU SAMA DIMATA ALLAH, DAN PADA AKHIRNYA KITA KEMBALI KETANAH DENGN HANYA KAIN KAFAN SAJA”. Wajahnya pucat seketika, dan keringat dingin bercucuran.
Ia memberikan aba-aba untuk berhenti, dia keluar dari mobil langsung memluk laki-laki tersebut dan berjalan sambil merangkul laki-laki tersebut kearah jalan menuju rumah laki-laki tersebut.
Kartu BLT itu digenggam dan dipatahkannya, dan jatuh dari tangan dipersimpangan jalan yang mulai mengecil, dikartu itu terpampang nama dengan jelas Giman Sudarsono.

Tuesday, December 1, 2015

Pesan Untuk Kanda PHP



Kanda
kemarin aku berjumpa dengan temanmu
mereka perna satukan canda dengan mu
kanda....
mereka ramah, seakan separuh nyawaku dengan nya
kanda...
masih jelas dari mataku atas keretakan kaca kita
membutakan mataku dan dua bintang kita
kanda.....
mereka menghiburku disini, dengan secangkir tentangmu
yang tak kukethui diranah minang kanda
kanda....
setangkai mawar kita mulai berkembang, dari guguran musim semi
kanda...
dua bintang kta mulai bersinar terang.

Tentang Friee Kecil ku



Aku yang terkurung dimana tempat kita terbiasa
Menampak lama yang bisa berpaling
Berharap ada setapak datang menghampiri. Mebangunkan dari mimpi panjang
Aku telah lama di buai kerinduan

Tadi ku buka fb mu, engkau telah mengenakan kaum putih itu
Kau cantik sekali kekasihku
Kau manis sekali
Sama dengan janji mu tempo dulu

Tangan mu telah kuning begituu indah
aku terjebak kekasih ku

siapa yang berkemeja hitam itu kekasihku
aku tak percaya siapa-siapa . aku percaya akan dirimu kekasihku
kekasihku….
kenapa kau diami aku begitu lama, kasih kabar tentang foto itu, jangan sirami aku dengan air dahaga lama.

Kekasih ku, aku terasing dan luka parah
sini bawakan wajahmu, sembuhkan luka beranak ini.

AKU DAN POLITIKUS



Lepaskan aku dari ikatan tanpa nyawa
ini drum besar kosong
ada seribu budak-budak merdeka
kita pelurus dibenam, menantang
Lepaskan aku dari ikatan tanpa nyawa
banyak daun muda berdadak berjatuhan
daun tua kembali muda
kita dipanggang lagu bang iwan
panas.. mendadak salju
atas bibir-bibir sang ayah
Ini jalan buntu, beri aku palu
Akan kudobrak goa-goa kesetanan
Sittthhhhhh...
diam sejenak , ini hari senin

Tentang Kita dan Tuhan



Tuhan..
Ini hidup yang kau arsirkan
Tegak lurus lalu terjang
Dengan ombak penentang
Membungkus jalan dengan keparat
Melorot sudah celana yang kupasang
Ditengah hutan dan keramaian
Dibatas embun dan air hujan
Arsiran kita hanya jarum jam
Selebih itu hanya dia yang tahu