Berserakan pecahan gelas, bersetubuh dengan telapak kaki
tinggal sedetak jantung yang kutelan
pada sang malam tak betuan
Aku yatim disini, meratapi bui lautan kian detik membukusku
melemparku, berdiri lalu terbawa arus pada bumi
apa harus kuberlari, lalu terjatuh dan menutup mataku..?
Apa salah, suaraku yang berderuh membukus dingin malam
adakah pintu, untuk ku ketuk dan terbuka
selain pintumu dan pintu mereka
apa taka da lagi, memandang darah sama merah
apa tak ada lagi ? beri yang ada.
Achhh........
sukma telah lelah berbasa-basi
membuka jendela lalu berkemas dan pergi
sang surya memelukku erat , lalu pasti.
Mati adalah mimpi.
No comments:
Post a Comment