Huuu.... , langit yang mendung seakan sangat bersahabat dengan pak
Giman, seorang tukang ojek di pasar satria jaya. Pak giman masih termenung
diatas motor legenda kesayangannya, motor yang masih membuat dia masih bertahan
dikota ini dan masih bisa memberikan nafkah kepada kedua anaknya, walaupun
hanya untuk makan 2 kali sehari.
Dalam al-qur’an di jelaskan kita sebagai khalifah di muka bumi,
harus saling tolong menolong antar sesama. Nyatanya sekarang ?. itu telah musna
di kota ini, budaya barat telah merobohkan benteng-benteng kokoh yang telah di
bangun ribuan tahun dengan sekejap tinggal cerita dan donggeng saja yang di
peruntukan sebgai lelucon di masa ini. Pak giman mengelengkan kepala. Kemana pemerintahku,
wakil ku ?.
Ternyata bukan sebatas itu yang disayangkan pak giman terhadap
pemerintah, ternyata berlanjut begitu parah, sehingga pak giman meneteskan air
mata dalam gubuk nya di seperempat malam itu.
BBM meloncat naik, seakan serentak memlulurantahkan tulang belulang
dan kata putus asa mulai merasuk di kepala pak giman. Ia termenung di pangkalan
ojek begitu lama, bahkan kawan seperjuangannya meyapa, tpi pak giman hanya
diam, sambil menatap ujung jalan yang berliku di ujung sana. Tapi anehnya tatapan
pak giman tak seperti biasanya, tatapannya kosong, pikirannya melayang entah
kemana, “ Apa yang harus ku lakukan ?, bagaimana dengan Nita dan Abdul?, apa
yang harus kukatakan kalau uang ku tidak cukup untuk menyekolahkan mereka, nita
harus masuk SMA, memang sekolah gratis, itu hanya SPP saja, dan yang
lainnya.....”. pikiran pak giman buyar saat suara azan berkumandang, pak giman
bergegas mengerakkan motornya ke tempat suara azan yang sedang berkumandang
dengan megahnya.
Senin, jam 17.15 pak giman duduk tersipuh didepan sebuah makam yang
hanya di kelilingi batu-batu kerikil, pemkaman ini sangat mudah untuk ditemui,
karna diantara pemakaman yang megah mengelilinginya. Makam yang hanya
bertembokan batu tersebut tertulis Kartini, “ iya, benar, itu memang makamnya
istri pak giman. Terlihat disela kelopak mata pak giman mulai menetes air mata
hanggat bercucuran. Pak giman mulai meruntuk dalam hatinya sambil memeluk nisan
istrinya. “ Abi minta maaf Ummi, nggak bisa beri yang terbaik untuk buah hati
kita, abi belum bisa mengumpulkan uang yang cukup , uang tabungan abi, tinggal
150 ribu mi, lainnya sudah terpakai dan lagi sekarang Nita mau.......”, pak
giman tak sanggup meneruskan bait demi bait, air matnya terus mengalir deras,
ia tertunduk denga isak yang membash bajunya, “ Abi sayaanngg Ummi “ ak giman
langsung berlari dari pemakaman tersebut.
Pak giman kembali di buat pusing akan kelakuan pemerintah. BBM naik
pemerintah ambur-ambur uang, apa nggak salah ?, ini edan.
Teman disebelah pak giman tersenyum lebar, karena ia dapat kartu
Bantuan langsung Tunai, “ ini baru pemerintah yang peduli dengan rakyat semacam
kita yah kan pak “, ucap nya dengan pak giman. Pak giman hanya diam saja, dan
memang ia di kenal sebgai pendiam, hanya bicara kalau yang penting-penting saja.
Hari rabu, jam 15.35, pak giman membawa motornya ke pinggir jalan
raya, dan jauh kelihatan iringan-iringan mobil mewah yang perlahan mulai
mendekati kearah pak giman, dann.... TASSSSSSSSS, suara kaca mobil itu pecah,
dan semua mobil berhenti, semua mata orang tertuju pada satu orang yang masih
berdiri dipinggir jalan raya itu, “ ITU DIA ORANGNYA, ITU DIA, ITU DIA YANG
MELEMPARNYA “, seseorang yang bertubuh tegap berpakaian baju loreng langsung
memukul kepala lelaki itu dan menagkapnya. Seorang yang berwaja luwes yang dari
tadi menatap kearah laki-laki yang melempar batu tersebut, akhirya
mendekatinya, “ kamu yang melakukannya” tanya orang tersebut dengan nada
lembut. “ iya “ jawab laki-laki tanpa
sedikitpun ketakutan, mungkin ini sudah ia pikirkan matang-matang. “ Kenapa?,
Salah apa saya pada anda?”, Anda tak perna mau mendengar suara dari gubuk
kumuh, anda tidak perna ingin tahu penderitaan rakyat kecil, saya ingin anda
tahu sebagai wali kota itu bearti anda adalah bapak dari kami semua, apakah
anda merasa sakit, saat kami kelaparan, apakah anda merasa sakit saat kami
hanya mampu bergantung hidup pada hari ini untuk besok” ucap nya sambil
menanggis. Wali kota itu tertunduk seraya berkata “ bukan seperti ini caranya,
ini adalah tindak anarkis”, “ seperti apa ?, bukankah ia media massa,
elektronik dan demonstran sudah merajalela, mulut mu dan lainnya masih
membukam, apakah kamu kira kami hanya tontonan dan lelucon untuk kalian yang
bermewah-mewahan atas milik kami, ingatlah kalian itu hanya wakil kami , penyambung
suara, bukankah semua yang kalian kerjakan untuk rakyat”, ujar laki-laki
tersebut dengn raut wajah yang binggar. “ Bawahh bapak ini “ Ujar wali kota
dengar muka yang memerah.
Mobil mewh itu melaju melewati jalan-jalan dan rambu-rambu,
meninggalkan mata-mata yang tertuju dan tinggal tanda tanya besar pada mereka,
“ apa yang ia lakukan, apakah ia sudah gila, kenapa dan mengapa ..? tanya itu
lenyap di telan angin yang berhembus begitu berkuasanya sore ini.
Sebelah tempat duduknya , ada batu yang dibaluti dengan kertas, dia
ambil dan buka, ada kartu BLT ( bantuan langsung tunai), dan ada tulisannya. “
INI KU KEMBALIKAN PADAMU KARTU INI, AKU MEMANG MISKIN, TAPI AKU BUKAN PENGEMIS.
AKU MEMANG BUTUH UANG, TAPI KEDAMAIAN, KETENANGAN, YANG AKU HARAPKAN, ALLAH
TIDAK TIDUR, INGAT ITU. JABATAN AKAN DIPERTANGGUNG JAWABKAN DIHADAPAN ALLAH,
KAU DAN AKU SAMA DIMATA ALLAH, DAN PADA AKHIRNYA KITA KEMBALI KETANAH DENGN
HANYA KAIN KAFAN SAJA”. Wajahnya pucat seketika, dan keringat dingin
bercucuran.
Ia memberikan aba-aba untuk berhenti, dia keluar dari mobil
langsung memluk laki-laki tersebut dan berjalan sambil merangkul laki-laki
tersebut kearah jalan menuju rumah laki-laki tersebut.
Kartu BLT itu digenggam dan dipatahkannya, dan jatuh dari tangan
dipersimpangan jalan yang mulai mengecil, dikartu itu terpampang nama dengan
jelas Giman Sudarsono.