Wednesday, August 30, 2017

Puisi dari Novel U ( Kamu ) -Pena Hitam




Dalam sekejap remang-remang pun menjadi gelap
Matahari menurun kan sinarnya
Lampu pelita meluncurkan hawa panas akan kelembutan dingin
Jemari masih sibuk membenah suara kertas berceceran
Aku atas nama suara yang terpendam
Melekatlah wahai jiwa yang hilang
Bosan...
Muak..
Jenuh dan sepii...

Biarkan hujan tetap pada basahnya
Biarkan lah trik tetap pada panasnya
Dan kau tetap pada senyummu yang tersipu
Disela itu daku menuai indomie dan asap kecil

Menari lah sebelum adzan di kumandangkan
Aku tetap pada daun kering disela pasir.

Bagian Lembar Dari Novel U ( Kamu )





Sebelum semua dalam pembicaraan yang utuh dan kisah kecil mulai terurai, rasanya dada ini semakin sesak mengingat rasa takut dan kematian yang semakin memanggil dan perjalanan menuju rasa kematian di bak duri menuai halaman per halaman tanpa adanya coretan dari sebuah kata berdebu.
Buku-buku kecil dalam rak dan juga foto usang menemani jiwa yang di balut lingkar rindu dan tititpan sunyi mendiamkan diri dalam kata merdeka atas luka, lebih dari itu semua tetap mengagumkan. Dari sudut mana aku memandang semua terasa sama, begitu berlika napasmu begitu nikmat sekali memanggil, aku bukan lah jiwa penunggang kuda, juga bukan pangeran yang memeberi nyawa semua terlewatkan dan begitu megahnya duniaku merdeup di antara terdampar dalam balik daun ,tanag sertakan udara yang pernah kita lewati atas kalbu rindu. Begitu kuat jiwa meraih semua dalam sentuhan dan kau sangat indah sore itu, aku bukan sedang merayu seperti 27 wanita yang telah rebah dalam dekap ku dan ketenaran nama bukan jawaban untuk mencanagkan semua raga. Apalah daya jika semua berlabuh atas nama cinta ini suatu bukan kemusnahan, ini sebuah muasal yang tak aku tahu muasalanya. Biar kan sepi asalakan hidup, biarkan diam asalkan menikmati bagian mu.
21 Maret 1990

Thursday, February 23, 2017

Merindu

Ada yang berlindung di balik plat merah
Ada yang berlindung di balik berdasi dan berbicara dilayar kaca
Aku berlindung di balik rerumputan jenuh ku.
Menuai satu foto 3 X 4 mu kekasih k

Wednesday, February 1, 2017

Pesan untuk bunda.

Aku mendengar suara gertakan merdeka memegang kepalaku
Lalu embun membasuh wajah dan mencuci lelapnya.
Khayalan mimpi indah di perairan sungai yang pernah kuceritakan di telan lenyap suara merdu sebelum mentari menampak wajahnya.
Bayang-bayang semu menatap dan hilang diterkam ombaknya
Wahh, tumbukan kertas kembali menuai hari di sela jemariku.
Aku lupa caraku berdiri dan sembunyi dibalik tirai berselimut buku.
Bundaaa, anakmu di maling otaknya dan dia terperangkap atas keindahan alamnya.
Bunda, kita kembalikan nanti saja bicara kita Tempo hari.
Aku menuai suara goa yang penuh kebencian atas langkah ini bunda.
Tenang bunda,wajah anakmu tetap sama ,senyum dan berseri tanpa duka.

Aku dibalik kain bertirai perapuk-perauk tua.

Friday, January 20, 2017

Sebut saja aku buta

Deting suara mulai menguap dan bisu
Jurus-jurus baru mulai muncul dan sendu
Nikmat sekali menyedu kisah lama diatas nyanyian kecil dan kelabu
Serasa kecil tubuh ini sekian hari memakan otak dan mengubur diri di balik rindu.

Wahai dikau sang Yunani kuno mitodologi bicara tentang dewa Zeus dan kisahnya.
Disini soe hok gie bicara dari hati atas resah dan kecamuk diri nya.
Chairil Anwar berkisah atas mulut bertabur darah dan bencinya.
Taufik Ismail bersenandung akan rintikan suara malam dan bertabur duka.

Aku cerita lebih sedikit dari mereka bergerak banyak.
Sesak sekali menahan tangis atas tawa di sekitar sini.
Kaum kecil berlindung di balik ranting tua dan daun hitam menyulap diri berwarna hijau.
Aku hanya diam tanpa ber dandan.

Ialah kita sama-sama di tusuk atas duka

Wednesday, January 11, 2017

Kata-kata rabu 11-1-2017 Evan Saputra

Jika ingin bicara tentangku, aku adalah rintikan hujan diantara rentakan kaca.

Bergeraklah ketika semua orang tertidur.tertidurlah ketika semua orang bergerak#leader.

Terlepas dari benar atau salah ,kita adalah pribadi yang mengagumkan.

Kita sering berbicara akan kesenjangan, pada dasarnya kitalah menuai dan memupuk kesenjangan itu sendiri.

Indonesia tidak akan lepas dari kata korupsi jika pemilihan pemimpin masih menjadi trending Topics di media.

Tipe pemimpin ada dua, yang satu pemimpin sholat atau pemimpin upacara, tergantung kita mendapatkannya seperti apa.

Tidak ada yang namanya pemimpin otoriter,jika pemimpin nya menanggis bersama kaum malam.

Berhentilah menuntut hak, jika kewajiban belum engkau laksanakan.

Pergi bukan berati hilang, hanya menuai suara dalam gelombang yang berbeda.

Jika dikau menutup pintu dan jendela, engkau
telah menutup seluruh badan mu.

Pemimpin yang bijaksana adalah pemimpin memiliki mahkota Rama dalam setiap arah.

Kita tidak akan pernah jadi manusia baik, jika kita belum menonton keburukan kita sendiri.

Hal yang paling menyakitkan, diludahi dan terusir dari rumah, dan jauh lebih sakit lagi melihat  kedua itu terjadi kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Jika kita sibuk memperhatikan tanaman orang lain,kapan kita akan menuai tanamkan kita sendiri.

Berpikir kritis bukan bearti cerdas, tapi bertindak benar sudah bearti cerdas.

Orang yang IPK 4 belum tentu masuk surga ,begitu juga dalam kehidupan pada dasarnya.

Sebaik-baiknya jalan, jalan dimana ia di butuhkan,bukan ia membutuhkan .

Pada dasarnya kita terlahir dari masyarakat dan kembali kemasyarakatan, maka bersosiallah.

Mata hanya dua ,jika tak sanggup menggunakannya, pejamkan, biarkan mata hati menuntun mu.

Menyendiri dan berakrab akan duka, kita sama-sama saja mengubur jasad diam-diam.

Jika ingin menulis ,maka dikau mengambil penah dan kertas, begitu juga dengan kehidupan,kau harus menyiapkan semuanya untuk bergerak.

Tidak ada perang tanpa strategi, begitu juga dengan kehidupan.

Hidup yang paling indah adalah bersyukur, berbagi dan menjadi cahaya di sela gelap.

Ilmu yang didapat dengan instan ,akan membentuk kepribadian seseorang menjadi tinggi diri, dan begitu lah sebaliknya.

Bicara yang paling indah adalah bicara tentang hal-hal yang paling sederhana dan masa depan.

Manusia adalah makhluk takut salah dalam bertindak ,sehingga sulit ketika di tempatkan 2 pilihan, sederhana nya, lakukan ,salah evaluasi dan sehingga kita bisa benar-benar memahami pilihan itu.

Manusia hanya mampu merencanakan, realisasinya tergantung dengan keadaan ,apakah mendukung atau tidak.

Jika sudah waktu ku, ku ingin sendiri dipinggiran sungai dan pondok kecil serta buku-buku, lalu mengubur diriku sendiri perlahan-lahan,biar tak ada duka menanamkan jasad tak lagi bertuan ini.

Friday, December 4, 2015

Surat Kecil Untuk Pemerintah



Huuu.... , langit yang mendung seakan sangat bersahabat dengan pak Giman, seorang tukang ojek di pasar satria jaya. Pak giman masih termenung diatas motor legenda kesayangannya, motor yang masih membuat dia masih bertahan dikota ini dan masih bisa memberikan nafkah kepada kedua anaknya, walaupun hanya untuk makan 2 kali sehari.
Dalam al-qur’an di jelaskan kita sebagai khalifah di muka bumi, harus saling tolong menolong antar sesama. Nyatanya sekarang ?. itu telah musna di kota ini, budaya barat telah merobohkan benteng-benteng kokoh yang telah di bangun ribuan tahun dengan sekejap tinggal cerita dan donggeng saja yang di peruntukan sebgai lelucon di masa ini. Pak giman mengelengkan kepala. Kemana pemerintahku, wakil ku ?.
Ternyata bukan sebatas itu yang disayangkan pak giman terhadap pemerintah, ternyata berlanjut begitu parah, sehingga pak giman meneteskan air mata dalam gubuk nya di seperempat malam itu.
BBM meloncat naik, seakan serentak memlulurantahkan tulang belulang dan kata putus asa mulai merasuk di kepala pak giman. Ia termenung di pangkalan ojek begitu lama, bahkan kawan seperjuangannya meyapa, tpi pak giman hanya diam, sambil menatap ujung jalan yang berliku di ujung sana. Tapi anehnya tatapan pak giman tak seperti biasanya, tatapannya kosong, pikirannya melayang entah kemana, “ Apa yang harus ku lakukan ?, bagaimana dengan Nita dan Abdul?, apa yang harus kukatakan kalau uang ku tidak cukup untuk menyekolahkan mereka, nita harus masuk SMA, memang sekolah gratis, itu hanya SPP saja, dan yang lainnya.....”. pikiran pak giman buyar saat suara azan berkumandang, pak giman bergegas mengerakkan motornya ke tempat suara azan yang sedang berkumandang dengan megahnya.
Senin, jam 17.15 pak giman duduk tersipuh didepan sebuah makam yang hanya di kelilingi batu-batu kerikil, pemkaman ini sangat mudah untuk ditemui, karna diantara pemakaman yang megah mengelilinginya. Makam yang hanya bertembokan batu tersebut tertulis Kartini, “ iya, benar, itu memang makamnya istri pak giman. Terlihat disela kelopak mata pak giman mulai menetes air mata hanggat bercucuran. Pak giman mulai meruntuk dalam hatinya sambil memeluk nisan istrinya. “ Abi minta maaf Ummi, nggak bisa beri yang terbaik untuk buah hati kita, abi belum bisa mengumpulkan uang yang cukup , uang tabungan abi, tinggal 150 ribu mi, lainnya sudah terpakai dan lagi sekarang Nita mau.......”, pak giman tak sanggup meneruskan bait demi bait, air matnya terus mengalir deras, ia tertunduk denga isak yang membash bajunya, “ Abi sayaanngg Ummi “ ak giman langsung berlari dari pemakaman tersebut.
Pak giman kembali di buat pusing akan kelakuan pemerintah. BBM naik pemerintah ambur-ambur uang, apa nggak salah ?, ini edan.
Teman disebelah pak giman tersenyum lebar, karena ia dapat kartu Bantuan langsung Tunai, “ ini baru pemerintah yang peduli dengan rakyat semacam kita yah kan pak “, ucap nya dengan pak giman. Pak giman hanya diam saja, dan memang ia di kenal sebgai pendiam, hanya bicara kalau yang penting-penting saja.
Hari rabu, jam 15.35, pak giman membawa motornya ke pinggir jalan raya, dan jauh kelihatan iringan-iringan mobil mewah yang perlahan mulai mendekati kearah pak giman, dann.... TASSSSSSSSS, suara kaca mobil itu pecah, dan semua mobil berhenti, semua mata orang tertuju pada satu orang yang masih berdiri dipinggir jalan raya itu, “ ITU DIA ORANGNYA, ITU DIA, ITU DIA YANG MELEMPARNYA “, seseorang yang bertubuh tegap berpakaian baju loreng langsung memukul kepala lelaki itu dan menagkapnya. Seorang yang berwaja luwes yang dari tadi menatap kearah laki-laki yang melempar batu tersebut, akhirya mendekatinya, “ kamu yang melakukannya” tanya orang tersebut dengan nada lembut.  “ iya “ jawab laki-laki tanpa sedikitpun ketakutan, mungkin ini sudah ia pikirkan matang-matang. “ Kenapa?, Salah apa saya pada anda?”, Anda tak perna mau mendengar suara dari gubuk kumuh, anda tidak perna ingin tahu penderitaan rakyat kecil, saya ingin anda tahu sebagai wali kota itu bearti anda adalah bapak dari kami semua, apakah anda merasa sakit, saat kami kelaparan, apakah anda merasa sakit saat kami hanya mampu bergantung hidup pada hari ini untuk besok” ucap nya sambil menanggis. Wali kota itu tertunduk seraya berkata “ bukan seperti ini caranya, ini adalah tindak anarkis”, “ seperti apa ?, bukankah ia media massa, elektronik dan demonstran sudah merajalela, mulut mu dan lainnya masih membukam, apakah kamu kira kami hanya tontonan dan lelucon untuk kalian yang bermewah-mewahan atas milik kami, ingatlah kalian itu hanya wakil kami , penyambung suara, bukankah semua yang kalian kerjakan untuk rakyat”, ujar laki-laki tersebut dengn raut wajah yang binggar. “ Bawahh bapak ini “ Ujar wali kota dengar muka yang memerah.
Mobil mewh itu melaju melewati jalan-jalan dan rambu-rambu, meninggalkan mata-mata yang tertuju dan tinggal tanda tanya besar pada mereka, “ apa yang ia lakukan, apakah ia sudah gila, kenapa dan mengapa ..? tanya itu lenyap di telan angin yang berhembus begitu berkuasanya sore ini.
Sebelah tempat duduknya , ada batu yang dibaluti dengan kertas, dia ambil dan buka, ada kartu BLT ( bantuan langsung tunai), dan ada tulisannya. “ INI KU KEMBALIKAN PADAMU KARTU INI, AKU MEMANG MISKIN, TAPI AKU BUKAN PENGEMIS. AKU MEMANG BUTUH UANG, TAPI KEDAMAIAN, KETENANGAN, YANG AKU HARAPKAN, ALLAH TIDAK TIDUR, INGAT ITU. JABATAN AKAN DIPERTANGGUNG JAWABKAN DIHADAPAN ALLAH, KAU DAN AKU SAMA DIMATA ALLAH, DAN PADA AKHIRNYA KITA KEMBALI KETANAH DENGN HANYA KAIN KAFAN SAJA”. Wajahnya pucat seketika, dan keringat dingin bercucuran.
Ia memberikan aba-aba untuk berhenti, dia keluar dari mobil langsung memluk laki-laki tersebut dan berjalan sambil merangkul laki-laki tersebut kearah jalan menuju rumah laki-laki tersebut.
Kartu BLT itu digenggam dan dipatahkannya, dan jatuh dari tangan dipersimpangan jalan yang mulai mengecil, dikartu itu terpampang nama dengan jelas Giman Sudarsono.