Sebelum semua dalam pembicaraan yang utuh dan kisah
kecil mulai terurai, rasanya dada ini semakin sesak mengingat rasa takut dan
kematian yang semakin memanggil dan perjalanan menuju rasa kematian di bak duri
menuai halaman per halaman tanpa adanya coretan dari sebuah kata berdebu.
Buku-buku kecil dalam rak dan juga foto usang
menemani jiwa yang di balut lingkar rindu dan tititpan sunyi mendiamkan diri
dalam kata merdeka atas luka, lebih dari itu semua tetap mengagumkan. Dari
sudut mana aku memandang semua terasa sama, begitu berlika napasmu begitu
nikmat sekali memanggil, aku bukan lah jiwa penunggang kuda, juga bukan
pangeran yang memeberi nyawa semua terlewatkan dan begitu megahnya duniaku
merdeup di antara terdampar dalam balik daun ,tanag sertakan udara yang pernah
kita lewati atas kalbu rindu. Begitu kuat jiwa meraih semua dalam sentuhan dan
kau sangat indah sore itu, aku bukan sedang merayu seperti 27 wanita yang telah
rebah dalam dekap ku dan ketenaran nama bukan jawaban untuk mencanagkan semua
raga. Apalah daya jika semua berlabuh atas nama cinta ini suatu bukan
kemusnahan, ini sebuah muasal yang tak aku tahu muasalanya. Biar kan sepi asalakan
hidup, biarkan diam asalkan menikmati bagian mu.
21 Maret 1990
No comments:
Post a Comment